Pandeglang, 18 September 2026 – Suasana haru menyelimuti Posko SAR Nasional di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, ketika operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu 1 resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari. Keputusan tersebut disampaikan pada Kamis, 17 September 2026, setelah Tim SAR Gabungan melakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian pencarian yang telah dilakukan sejak rombongan hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September. Tangis keluarga pecah ketika keputusan penghentian operasi disampaikan. Sejumlah anggota keluarga terlihat saling menguatkan setelah selama lebih dari sepekan menunggu kepastian mengenai keberadaan orang-orang terdekat mereka. Hingga hari terakhir operasi, tim belum menemukan tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru yang melakukan perjalanan menggunakan kapal cepat Arupadhatu 1 menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Setelah kapal dilaporkan hilang kontak, operasi pencarian segera dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. Pencarian awalnya dilaksanakan selama tujuh hari sesuai prosedur operasi SAR. Karena belum ditemukan hasil yang dapat memberikan kepastian, operasi kemudian diperpanjang selama tiga hari. Perpanjangan tersebut membuat pencarian berlangsung hingga hari kesepuluh dengan penyisiran di berbagai sektor perairan dan wilayah daratan. Namun, seluruh upaya tersebut belum menghasilkan temuan yang dapat menunjukkan keberadaan kapal maupun para penumpangnya.
Gubernur Banten Andra Soni turut berada di Posko SAR Nasional Carita ketika hasil evaluasi operasi disampaikan. Ia menjelaskan bahwa sejak hari pertama hingga hari kesepuluh, tim secara umum belum menemukan tanda keberadaan kapal, penumpang, maupun awak yang berada di Arupadhatu 1. Berdasarkan evaluasi tersebut, operasi gabungan kemudian dinyatakan selesai. Keputusan itu menjadi momen berat bagi keluarga yang selama proses pencarian terus berada di sekitar posko untuk menunggu perkembangan terbaru. Mereka sebelumnya masih berharap tim menemukan petunjuk yang dapat mengarahkan pencarian menuju lokasi rombongan. Penghentian operasi akhirnya membuat suasana posko berubah menjadi penuh kesedihan.
Selama sepuluh hari, pencarian dilakukan dengan menyisir wilayah laut, daratan, dan kawasan yang dinilai berpotensi berkaitan dengan pergerakan kapal. Tim SAR menggunakan berbagai sarana untuk memperluas jangkauan operasi karena karakter Selat Sunda memiliki arus dan kondisi perairan yang dinamis. Penyisiran juga dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan kapal atau penumpang terbawa arus menjauh dari titik kontak terakhir. Setiap informasi yang diterima selama operasi diperiksa untuk memastikan apakah mempunyai hubungan dengan Arupadhatu 1. Sejumlah petunjuk yang muncul juga diverifikasi langsung oleh petugas di lapangan. Meski wilayah pencarian terus diperluas, hingga operasi berakhir belum ditemukan bukti yang memastikan keberadaan delapan orang tersebut.
Keputusan penghentian operasi bukan berarti seluruh kemungkinan pencarian tertutup secara permanen. Tim SAR menyatakan operasi dapat kembali dibuka apabila kemudian ditemukan petunjuk atau bukti baru yang berkaitan dengan kapal maupun para penumpangnya. Pemantauan terhadap kawasan Selat Sunda juga tetap dilakukan dengan mengandalkan informasi dari kapal yang melintas, patroli, maupun laporan masyarakat. Kepala Basarnas Banten Al Amrad menyampaikan bahwa pemantauan terhadap delapan orang yang hilang akan tetap berjalan meskipun operasi aktif telah ditutup. Informasi baru yang memiliki tingkat kredibilitas memadai dapat menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut. Mekanisme tersebut memberikan ruang bagi operasi pencarian untuk kembali dilakukan apabila perkembangan baru muncul.
Bagi keluarga, berakhirnya operasi aktif menjadi kenyataan yang sulit diterima setelah sepuluh hari menunggu di tengah ketidakpastian. Beberapa keluarga telah berada di Carita sejak hari-hari awal pencarian dan mengikuti perkembangan operasi dari dekat. Mereka menyaksikan kapal dan personel berangkat melakukan penyisiran setiap hari dengan harapan rombongan dapat ditemukan. Setiap kepulangan tim pencari menjadi momen yang ditunggu karena keluarga berharap terdapat informasi baru mengenai keberadaan orang-orang yang hilang. Ketika keputusan penghentian akhirnya disampaikan, sejumlah keluarga tidak mampu menahan air mata. Personel SAR, kerabat, serta rekan-rekan jurnalis kemudian memberikan dukungan kepada mereka di tengah suasana duka yang menyelimuti posko.
Dukungan terhadap keluarga juga datang dari kalangan jurnalis yang mengikuti perkembangan pencarian sejak awal. Setelah operasi dihentikan, doa bersama digelar sebagai bentuk solidaritas dan harapan agar lima jurnalis serta tiga kru Arupadhatu 1 tetap dapat ditemukan. Delapan mawar putih dan sejumlah pesan harapan diletakkan di dekat foto orang-orang yang hilang. Momen tersebut menjadi simbol bahwa berakhirnya operasi SAR aktif tidak serta-merta menghilangkan harapan keluarga dan rekan-rekan mereka. Doa serupa juga digelar oleh komunitas jurnalis di sejumlah daerah selama proses pencarian berlangsung. Solidaritas itu muncul karena peristiwa tersebut terjadi ketika para jurnalis sedang menjalankan kegiatan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Operasi selama sepuluh hari sebelumnya telah melewati berbagai tahapan pencarian dengan cakupan wilayah yang terus berkembang. Tim gabungan melakukan penyisiran berdasarkan perhitungan arus, informasi terakhir perjalanan, serta kemungkinan pergerakan objek di perairan. Tantangan kondisi laut dan cuaca juga menjadi bagian dari operasi karena dapat memengaruhi visibilitas maupun pergerakan kapal pencari. Setelah tujuh hari pertama belum memberikan hasil, keputusan memperpanjang pencarian tiga hari memberikan kesempatan tambahan untuk memeriksa wilayah yang lebih luas. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya maksimal sebelum evaluasi akhir dilaksanakan. Hasil pencarian selama masa tambahan itu kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan penghentian operasi aktif pada hari kesepuluh.
Meski operasi resmi dihentikan, masyarakat pesisir dan pengguna jalur pelayaran di sekitar Selat Sunda tetap memiliki peran dalam memberikan informasi apabila menemukan objek yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu 1. Setiap temuan yang mempunyai karakteristik relevan dapat dilaporkan kepada pihak berwenang untuk diperiksa lebih lanjut. Pemantauan pascaoperasi menjadi penting karena luasnya perairan membuat kemungkinan munculnya informasi baru tetap ada. Basarnas dapat melakukan tindak lanjut apabila laporan yang diterima memberikan petunjuk konkret mengenai kapal atau penumpangnya. Karena itu, penghentian operasi terstruktur tidak sepenuhnya mengakhiri upaya memperoleh kepastian. Jalur informasi dan pemantauan tetap terbuka setelah seluruh personel menyelesaikan fase pencarian aktif.
Berakhirnya pencarian Arupadhatu 1 meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan komunitas jurnalis yang mengikuti proses tersebut sejak awal. Selama sepuluh hari, berbagai unsur SAR telah melakukan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru dengan penyisiran di laut maupun wilayah terkait lainnya. Namun, hingga operasi ditutup pada 17 September 2026, belum ditemukan tanda keberadaan kapal ataupun delapan orang tersebut. Keluarga kini harus menghadapi masa penantian berikutnya tanpa operasi pencarian aktif seperti yang berlangsung selama sepuluh hari sebelumnya. Harapan tetap tertuju pada kemungkinan munculnya petunjuk baru yang dapat memberikan kepastian mengenai nasib rombongan. Apabila bukti baru ditemukan, operasi SAR masih dapat dibuka kembali untuk menindaklanjuti informasi tersebut.






