Jakarta, 30 Agustus 2026 – Film fiksi ilmiah keluarga Pelangi di Mars menghadirkan terobosan dalam perfilman Indonesia melalui pemanfaatan teknologi Extended Reality (XR) berbasis Unreal Engine. Penggunaan teknologi tersebut dinilai membuka peluang baru bagi sineas nasional untuk menghasilkan karya dengan kualitas visual yang lebih imersif sekaligus mendorong inovasi dalam industri sinema Tanah Air.
Film produksi Mahakarya Pictures dan disutradarai Upie Guava tersebut menggabungkan XR, motion capture, CGI, serta teknologi berbasis game engine dalam proses produksinya. Pendekatan tersebut memungkinkan dunia virtual dan elemen nyata dipadukan secara langsung selama proses pembuatan film.
Teknologi XR Jadi Bagian Utama Produksi
Pemanfaatan XR dalam Pelangi di Mars menjadi salah satu aspek yang membedakan film tersebut dari produksi film Indonesia pada umumnya. Keseluruhan proses pengambilan gambar dilakukan di studio dengan memanfaatkan lingkungan virtual yang dibangun menggunakan teknologi digital.
Teknologi tersebut memberikan kesempatan bagi para pemain untuk berinteraksi dengan lingkungan visual yang dirancang secara digital. Proses ini juga menuntut pemain memiliki kemampuan berimajinasi lebih tinggi karena tidak seluruh elemen yang terlihat dalam hasil akhir hadir secara fisik ketika syuting.
Pemeran utama Messi Gusti mengungkapkan bahwa proses syuting menggunakan XR memiliki tantangan tersendiri. Ia harus membayangkan situasi dan lingkungan yang nantinya akan menjadi bagian dari dunia film.
Produksi Pelangi di Mars sendiri telah melalui proses panjang selama lebih dari lima tahun dan melibatkan ratusan talenta kreatif Indonesia.
Dorong Perfilman Indonesia Naik Kelas
Pemanfaatan teknologi tersebut mendapat apresiasi dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai Pelangi di Mars menunjukkan keberanian sineas Indonesia dalam mengeksplorasi genre fiksi ilmiah sekaligus menggunakan teknologi produksi yang relatif baru di industri nasional.
Menurutnya, penerapan XR menjadi salah satu bentuk lompatan dalam perkembangan perfilman Indonesia. Teknologi tersebut tidak hanya berfungsi untuk memperkuat tampilan visual, tetapi juga membuka ruang bagi kreator untuk mengembangkan cara baru dalam menyampaikan cerita.
Kementerian Ekraf juga menilai film tersebut dapat menjadi contoh bahwa industri film Indonesia memiliki kemampuan untuk mengadopsi teknologi kelas dunia. Penguatan teknologi dan kreativitas diharapkan membuat karya nasional semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional.
Gabungkan XR, CGI, dan Motion Capture
Dalam proses pembuatannya, Pelangi di Mars memadukan sejumlah teknologi digital. Selain XR dan Unreal Engine, produksi juga memanfaatkan motion capture dan CGI untuk menciptakan karakter serta lingkungan yang mendukung cerita.
Pendekatan tersebut memungkinkan sineas membangun dunia Mars tanpa harus membuat set fisik berukuran besar. Dunia virtual menjadi ruang utama bagi para pemain untuk menjalankan adegan, sementara teknologi digital membantu membentuk tampilan akhir yang lebih kompleks.
Sutradara Upie Guava sebelumnya menjelaskan bahwa proyek tersebut berangkat dari keinginan untuk mengembangkan infrastruktur teknologi dalam produksi film yang masih relatif sedikit disentuh di Indonesia.
Eksperimen dengan teknologi XR kemudian dikembangkan menjadi sistem produksi yang lebih terintegrasi. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya membangun kemampuan teknis para pekerja kreatif Indonesia.
Buka Peluang bagi Talenta Lokal
Pengembangan Pelangi di Mars tidak hanya menghasilkan sebuah film, tetapi juga menjadi wadah bagi ratusan talenta kreatif nasional. Para editor, animator, seniman VFX, hingga tenaga teknis lainnya terlibat dalam proses panjang pembuatan karya tersebut.
Keterlibatan banyak talenta lokal memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi perfilman dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Semakin banyak produksi yang menggunakan teknologi baru, semakin besar pula kesempatan bagi pekerja kreatif Indonesia untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan keahlian.
Produksi Film Negara (PFN) juga menilai pemanfaatan XR berbasis Unreal Engine dalam film tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi, inovasi teknologi, serta ekosistem perfilman nasional agar semakin adaptif terhadap perkembangan industri.
Jadi Batu Loncatan Sinema Nasional
Pelangi di Mars pada akhirnya tidak hanya menawarkan cerita petualangan fiksi ilmiah, tetapi juga membawa eksperimen teknologi ke dalam produksi film Indonesia. Penggunaan XR memperlihatkan bahwa teknologi yang sebelumnya identik dengan produksi berskala global dapat mulai dikembangkan dan diterapkan oleh kreator Tanah Air.
Kehadiran film tersebut diharapkan menjadi batu loncatan bagi sineas lain untuk terus bereksperimen dengan teknologi baru. Dengan perpaduan kreativitas, sumber daya manusia, dan inovasi teknologi, industri film Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan karya yang tidak hanya kuat dari sisi cerita, tetapi juga mampu bersaing dari aspek produksi dan visual.
Melalui Pelangi di Mars, perkembangan teknologi XR sekaligus menunjukkan bahwa masa depan sinema Indonesia semakin terbuka terhadap eksplorasi dunia virtual, efek visual, dan metode produksi yang lebih modern.






