Jakarta, 4 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto memaparkan sejumlah program prioritas pemerintah Indonesia ketika menyampaikan pidato sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia. Dalam forum ekonomi internasional tersebut, Prabowo menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), upaya mencapai swasembada pangan, ketahanan energi, hingga percepatan hilirisasi industri. Kepala Negara menempatkan berbagai kebijakan tersebut dalam kerangka pembangunan yang manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Menurut Prabowo, keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai berdasarkan pertumbuhan ekonomi maupun berbagai indikator makro apabila kehidupan keluarga biasa belum mengalami perbaikan. Pemerintah karena itu berupaya menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penciptaan kesempatan kerja produktif. Pesan tersebut disampaikan di hadapan peserta EEF sebagai gambaran mengenai arah pembangunan yang sedang dijalankan Indonesia.
Prabowo menegaskan pembangunan tidak seharusnya hanya menghasilkan keuntungan bagi kelompok tertentu, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Ukuran keberhasilan menurutnya dapat dilihat dari kondisi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti apakah anak memperoleh makanan bergizi, petani memiliki akses terhadap pupuk dan mendapatkan harga yang layak untuk hasil produksinya, serta keluarga dapat menempati rumah yang memadai. Kesempatan bagi generasi muda memperoleh pekerjaan produktif dan akses listrik hingga tingkat desa juga menjadi bagian dari ukuran tersebut. Pendekatan itu sejalan dengan tema EEF yang menempatkan pembangunan untuk kepentingan masyarakat sebagai salah satu perhatian utama. Prabowo menggunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan bahwa Indonesia sedang mendorong pembangunan dengan orientasi pemerataan manfaat. Pertumbuhan ekonomi ditempatkan sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan dan bukan sekadar pencapaian angka statistik.
Program MBG menjadi salah satu contoh yang disampaikan Prabowo untuk menggambarkan penerapan pendekatan tersebut. Pemerintah menjalankan program pemberian makanan bergizi kepada anak-anak serta kelompok penerima manfaat lainnya, termasuk ibu hamil, sebagai investasi dalam pembangunan kualitas manusia. Pemenuhan gizi dipandang memiliki hubungan langsung dengan kesehatan, perkembangan anak, kemampuan mengikuti pendidikan, serta produktivitas ketika memasuki usia kerja. Pemerintah ingin persoalan kekurangan gizi ditangani sejak dini sehingga dampaknya tidak terus terbawa hingga generasi berikutnya. Pelaksanaan program dalam skala nasional sekaligus membutuhkan rantai pasok pangan yang besar sehingga memiliki keterkaitan dengan petani, peternak, nelayan, usaha kecil, serta berbagai produsen bahan pangan. Dengan pendekatan tersebut, MBG tidak hanya diposisikan sebagai program pemberian makanan, tetapi juga dihubungkan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Ketahanan pangan menjadi agenda berikutnya yang mendapatkan perhatian besar dalam pidato Presiden. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga kemampuan menyediakan pangan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dari keamanan nasional. Pemerintah ingin meningkatkan produksi domestik agar kebutuhan masyarakat tidak terlalu bergantung pada kondisi pasar internasional yang dapat berubah akibat cuaca, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, maupun perubahan harga komoditas. Peningkatan produktivitas pertanian menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemampuan tersebut, disertai perbaikan irigasi, ketersediaan pupuk, penggunaan benih berkualitas, dan dukungan teknologi. Petani juga harus memperoleh manfaat ekonomi yang layak agar peningkatan produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, swasembada pangan ditempatkan sebagai agenda yang mencakup produksi sekaligus kesejahteraan pelaku utama sektor pertanian.
Prabowo menilai ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan petani meningkatkan hasil produksi. Pemerintah berupaya memastikan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dengan mekanisme yang lebih efektif sehingga proses budidaya tidak terganggu akibat persoalan distribusi. Pada saat yang sama, harga hasil pertanian perlu memberikan keuntungan yang wajar agar petani memiliki kemampuan mempertahankan kegiatan produksi dan melakukan investasi pada musim berikutnya. Kebijakan pangan dengan demikian membutuhkan keseimbangan antara kepentingan konsumen mendapatkan harga terjangkau dan kebutuhan produsen memperoleh pendapatan yang layak. Pemerintah juga terus memperkuat cadangan pangan untuk menghadapi kemungkinan gangguan pasokan maupun kebutuhan stabilisasi. Cadangan yang memadai memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah merespons perubahan kondisi tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Agenda pangan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan MBG karena program membutuhkan pasokan bahan makanan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Permintaan yang berasal dari dapur-dapur pelayanan gizi dapat menjadi pasar bagi produk pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai komoditas lokal apabila rantai pasok dibangun dengan baik. Pemerintah berupaya agar pengadaan bahan pangan dapat memberikan manfaat ekonomi kepada produsen di sekitar wilayah pelayanan sepanjang memenuhi standar kualitas dan keamanan. Pendekatan tersebut dapat memperpendek jalur distribusi sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi lokal. Namun kebutuhan dalam jumlah besar juga menuntut sistem pengadaan, penyimpanan, distribusi, dan pengawasan kualitas yang konsisten. Keberhasilan menghubungkan MBG dengan produksi pangan lokal akan menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas dampak ekonomi program tersebut.
Selain pangan, Prabowo turut membawa agenda ketahanan energi dalam pembahasan mengenai arah pembangunan Indonesia. Pemerintah menempatkan kemampuan memenuhi kebutuhan energi sebagai salah satu fondasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mendukung industrialisasi. Permintaan listrik dan bahan bakar akan terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas industri, transportasi, serta pembangunan wilayah. Indonesia memiliki berbagai sumber energi yang dapat dikembangkan sehingga pemerintah berupaya meningkatkan pemanfaatannya secara optimal dan tetap mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Kerja sama internasional juga terbuka terutama dalam investasi, teknologi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kemampuan produksi. Kehadiran Prabowo di Rusia sekaligus menjadi kesempatan memperluas hubungan ekonomi dengan negara yang memiliki kapasitas besar dalam sektor energi.
Hilirisasi industri turut dipaparkan sebagai bagian dari strategi Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Pemerintah tidak ingin komoditas yang dimiliki Indonesia terus menerus dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi relatif lebih rendah. Pengolahan di dalam negeri diharapkan menciptakan kegiatan industri baru, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kemampuan teknologi, serta memberikan penerimaan yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Strategi tersebut telah menjadi salah satu agenda utama pemerintah dalam menarik investasi menuju sektor pengolahan dan manufaktur. Indonesia menawarkan potensi sumber daya sekaligus pasar domestik besar yang dapat menjadi daya tarik bagi investor internasional. Namun investasi yang masuk diharapkan memberikan manfaat jangka panjang melalui pembangunan kapasitas industri dan keterlibatan tenaga kerja nasional.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menekankan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat agar semakin banyak masyarakat dapat keluar dari kemiskinan. Pertumbuhan menurut pemerintah harus menghasilkan kesempatan kerja produktif dan meningkatkan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar. Kebijakan ekonomi karena itu diarahkan untuk menghubungkan investasi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, energi, dan peningkatan kualitas manusia. Pendekatan tersebut membutuhkan konsistensi karena berbagai program memiliki hubungan satu sama lain dan tidak dapat berjalan secara terpisah. Investasi dapat menghasilkan lapangan kerja, sementara ketahanan pangan dan energi membantu menjaga stabilitas biaya serta aktivitas ekonomi. Pendidikan dan pemenuhan gizi kemudian dibutuhkan agar masyarakat memiliki kemampuan memanfaatkan kesempatan ekonomi yang tersedia.
Kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF ke-11 juga menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas kerja sama ekonomi dengan Rusia dan berbagai negara yang mengikuti forum tersebut. Pemerintah melihat Vladivostok sebagai ruang untuk memperkenalkan potensi investasi sekaligus menjajaki kerja sama pada sektor perdagangan, energi, industri, teknologi, dan bidang strategis lainnya. Prabowo menegaskan pencapaian yang telah diperoleh Indonesia baru merupakan permulaan dan masih membutuhkan kerja berkelanjutan untuk mencapai target pembangunan yang lebih besar. MBG, swasembada pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi menjadi bagian dari agenda tersebut karena seluruhnya diarahkan untuk memperkuat kemandirian nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah juga ingin kerja sama internasional menghasilkan keuntungan yang seimbang dan memberikan dampak konkret bagi pembangunan dalam negeri. Melalui forum EEF ke-11, Indonesia membawa pesan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama pemerataan manfaat sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan sampai tingkat keluarga.





